Senat AS pilih tinggalkan kebijakan kerahasiaan internet Obama

In Dunia

Washington (ANTARA News) – Senat Amerika Serikat pada Kamis (23/3) waktu setempat mengadakan pemungutan suara untuk mencabut peraturan penyedia layanan internet untuk berbuat lebih banyak demi melindungi kerahasiaan pelanggan dari situs seperti Google dan Facebook.
Laman Reuters mewartakan, hasil pemungutan suara menunjukkan 50 dari Partai Republik menyetujui langkah tersebut dan 48 Demokrat menolaknya. Dua orang perwakilan Partai Republik di Senat absen dan tidak memberikan suara.
Menurut peraturan yang disetujui Komisi Komunikasi Federal (FCC) pada Oktober lalu, saat Barack Obama masih menjabat sebagai presiden, penyedia internet harus meminta persetujuan konsumen sebelum menggunakan geolokasi, informasi yang berkaitan dengan finansial, kesehatan dan anak serta histori web browsing untuk keperluan iklan dan pemasaran.
Pemungutan suara sebelumnya menjadi kemenangan bagi penyedia internet seperti AT&T Inc, Comcast Corp dan Verizon Communication Inc.
Rancangan undang-undang kemudian dibawa ke DPR AS, namun belum jelas kapan mereka akan menindaklanjuti.
Pimpinan Senat AS, Mitch McConnell menyatakan Senat menggulingkan regulasi yang "menjadikan internet sebagai medan yang tidak seimbang, meningkatkan kerumitan, tidak mendukung kompetisi, inovasi dan investasi infrastruktur".
Tetapi, Senator Demokrat Ed Markey mengatakan "Republik membuat informasi sensitif rakyat AS seperti kesehatan, keuangan dan keluarga mereka digunakan, dibagikan dan dijual ke penawar tertinggi tanpa izin mereka".
Ketua FCC Ajit Pai mengatakan konsumen akan memiliki proteksi kerahasiaan meski pun tanpa kebijakan Obama tentang penyedia internet.
Dalam keterangan bersama, anggota Demokrat FCC dan Komisi Perdagangan Federal (FTC) mengatakan pemungutan suara Senat "membuat kesenjangan besar dalam undang-undang proteksi konsumen karena perusahaan broadband dan kabel sekarang tidak memiliki persyaratan kerahasiaan yang terlihat".
Komisioner dari Partai Republik, termasuk Pai, pada Oktober lalu mengatakan kebijakan tersebut secara tidak adil akan memberikan website seperti Facebook, Twitter dan Google kemampuan untuk mengambil lebih banyak data dari pada penyedia layanan internet dan akan mendominasi periklanan digital.
Asosiasi Internet dan Televisi AS, dalam keterangan tertulis memuji pemungutan suara tersebut sebagai "langkah penting menuju pembangunan kembali kerangka kerja seimbang yang didasari kerangka kerja FTC yang berlaku sama untuk semua pihak".
Website diatur oleh seperangkat peraturan yang kurang membatasi kerahasiaan oleh FTC.
Menurut konselor kebijakan dari grup advokasi konsumen, Consumer Union, voting tersebut "langka besar menuju arah yang salah dan benar-benar tidak memedulikan kebutuhan dan kekhawatiran konsumen".

Penerjemah: Natisha Andarningtyas

Editor: Ida Nurcahyani

COPYRIGHT © ANTARA 2017

You may also read!

Presiden Jokowi beri sepeda ke siswa Barus

Barus (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan hadiah sepeda bagi dua siswa berprestasi di sela-sela pembagian bantuan

Read More...

Densus 88 Geledah Kediaman Teroris di Ciputat

JawaPos.com - Pengembangan penangkapan jaringan teroris Indonesia-Filipina Selatan terus dilakukan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri. Salah satunya dengan menggeledah

Read More...

KPK Temukan Uang USD 200 Ribu Saat Tangkap Andi Narogong

JawaPos.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan uang sebesar USD 200 ribu saat menangkap pengusaha penyedia barang dan jasa

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu